Wednesday, December 1, 2010

Belajar dari Air

Air bersifat mengalah,

namun selalu tidak pernah kalah

Air mematikan api dan membersihkan kotoran.

Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan,

air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun.

Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu

Bilamana bertemu batu arang,

dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali.

Air membuat jernih udara sehingga angin menjadi mati

Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati.

Karena dia sadar bahwa tak ada suatu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan.

Air menang dengan mengalah,

dia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

(Master Saeho-Master Lan She Lung the Islamic Shaolin Kung Fu)

dan kemenangan sejati adalah sampai kepadaMu dengan selamat..

begitu banyak godaan dijalan ini ya Rabb..

Monday, November 15, 2010

Way Back into Love – Hugh Grant & Haley Bennett

[Haley]
I’ve been living with a shadow overhead
I’ve been sleeping with a cloud above my bed
I’ve been lonely for so long
Trapped in the past, I just can’t seem to move on

[Hugh]
I’ve been hiding all my hopes and dreams away
Just in case I ever need them again someday
I’ve been setting aside time
To clear a little space in the corners of my mind

[Haley & Hugh]
All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
Oh oh oh

[Haley]
I’ve been watching but the stars refuse to shine
I’ve been searching but I just don’t see the signs
I know that it’s out there
There’s gotta be something for my soul somewhere

[Hugh]
I’ve been looking for someone to shed some light
Not somebody just to get me through the night
I could use some direction
And I’m open to your suggestions

[Haley & Hugh]
All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart again
I guess I’m hoping you’ll be there for me in the end

[Haley]
There are moments when I don’t know if it’s real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

[Haley & Hugh]
All I wanna do is find a way back into love
I can’t make it through without a way back into love
And if I open my heart to you
I’m hoping you’ll show me what to do
And if you help me to start again
You know that I’ll be there for you in the end..

Tuesday, November 2, 2010

titik-garis

Alhamdulillah,,,

sudah mulai menemukan satu ttitik
tinggal menemukan titik-titik yang lainnya
dan menariknya menjadi sebuah garis
sebagai jalan memperoleh ridhomu...

pilihan ->usaha->istiqamah->tawakal



Sunday, October 31, 2010

JarakPaling Jauh


terkadang jarak terjauh itu bukan antara langit dan bumi..melainkan dia ada dihadapanmu tapi tidak pernah menyadari apa yang ada didalam hatimu..





tapi kawan jauh.. jauh.. jauh.. melebihi itu jarak terjauh dari yang terjauh dan paling dibenci oleh Allah adalah putusnya silaturahmi..







*lagi pengen sesuatu tapi ga berani bilang ..XXXXXXXXXXX :D
*lagi kangen sama temen2..
*lagi bingung sama sesuatu..

lagi melankolis pokoknya mah...








Saturday, October 30, 2010

PETA

sekalinya aku belajar yang bisa disebut agak cukup bener dibandingkan uts ato uas2 sebelumnya,,eh soal2 yang keluar entah berasal dari mana...hari pertama aja udah bikin kesel,,,:p tapi ditengah kekesalan itu aku nemuin tulisan ini....selamat menyimak...:D

Suatu hari di musim dingin satu regu tentara diperintahkan oleh komandannya, seorang letnan muda yang masih sangat bersemangat dan idealis, untuk melakukan patroli. Padahal hari itu salju turun begitu lebatnya dan cuaca sangat buruk. Sang komandan tetap teguh memerintahkan satu regu itu untuk berangkat walau pun sempat diprotes oleh anak buahnya. Hingga di suatu tempat badai salju menerjang dan seregu pasukan itu menyelamatkan diri dalam sebuah gua. Malang bagi mereka, gua tersebut tertutup oleh reruntuhan salju yang jatuh dari atas bukit. Mereka terjebak di dalamnya.

Selama tiga hari satu regu pasukan itu kehilangan kontak dengan markas. Si letnan muda pun merasa bersalah atas sikap keras kepalanya. Patroli harian yang biasanya berlangsung 2-3 jam kini selama tiga gari pasukannya belum kembali. Tepat di hari ketiga tersebut pasukannya kembali ke markas. Mereka disambut dengan penuh suka cita. Si komandan lalu bertanya kepada pasukannya bagaimana mereka bisa selamat.

Kisah bagaiaman satu regu pasukan Honggaria itu bisa selamat ialah suatu hal yang sungguh menarik untuk diambil pelajaran. Pasukannya bercerita bahwa mereka sempat frustasi dalam keadaan itu. Keluar dari gua itu adalah hal yang mustahil karena mulut gua sudah tertutup sama sekali oleh timbunan es yang sangat tebal. Bekal yang mereka bawa mereka cukup-cukupkan untuk bertahan hidup. Dalam kondisi demikian seorang dari mereka membuka dompetnya untuk melihat foto anak istrinya. Barangkali ia berpikir bahwa ini adalah saat terakhir bisa menatap mereka walau hanya lewat foto. Tiba-tiba si tentara ini berteriak memanggil rekannya bahwa ia menemukan peta di dompetnya. Walau pun peta itu sudah lusuh dan tua, ia tetap bisa digunakan untuk memandu mereka keluar. Berkat peta itu mereka akhirnya menemukan jalan keluar.

Alangkah terkejut si komandan sewaktu ia melihat peta yang dibawa oleh anak buahnya itu, bahwa ternyata peta yang tua dan lusuh itu bukanlah peta tempat mereka berada, melainkan peta suatu daerah di Spanyol yang kebetulan mirip.,,

Nampaknya... memang kita tidak selalu membutuhkan peta yang benar untuk sampai ke tujuan....

..selama kita yakin dengan arah tujuan kita,,suatu saat kita akan sampai di tujuan..InsyaAllah.. :D

Tumpah ruah 1

saat kau melihat seseorang yang sempurna menurutmu
seolah-olah semua yang engkau impikan Allah berikan padanya,,
kau ingin agar kau juga seperti dia,,
Dia bersama mereka yang menurutmu beruntung itu,,
diberi kesempatan olehNya untuk melangkah di jalan yang sudah lama ingin kau tempuh,,
sedangkan Kau,,,
terjatuh lagi,,terjatuh lagi,, sebelum melangkah di jalan itu,,
dan saat itu,,
saat itu kau mulai berpikir bahwa Allah tidak adil padamu,,
dengan semua kesungguhanmu,,dengan semua rintihanmu padaNya..
sepertinya tak ada celah sedikit pun untuk membiarkan kaki mu melangkah di jalan itu..
sekali lagi kau berpikir Allah benar-benar tidak adil padamu,,

Tahukah kau siapa yang mebisikannya padamu,,??
siapa yang menodai hatimu dengan segala perasangka burukmu terhadap ketetapanNya?
satu-satunya yang ingin melihatmu hancur,,melihatmu kecewa,, dan akhirnya kau kalah,,

syetan-syetan itulah yang mengotori jiwamu,,
oh syetan sungguh kau memang BERENGSEK!!!
jika saja aku tidak bertemu dengan utusanNya
yang menyampaikan ayat-ayatNya,,
memberi hikmah, menyucikan jiwa yang kotor itu..
mungkin aku juga mengamini bisikannya bahwa ALLAH memang tidak adil,,
persis seperti apa yang baru kau pikirkan..

NAUDZUBILLAH...

bersambung..... :D

Monday, October 4, 2010

Cintanya Ali bin Abi Thalib

baca dari blog orang,,cuma satu kata setelah membacanya.."SUBHANALLAH",,jadi inget perkataan seorang teman di masa jahiliyah dulu,,"sebaiknya kalau kita mulai menyukai seseorang (lawan jenis) itu jangan dicerita2in sama orang lain,,baik itu teman saudara ibu atau bapak ,,karena dengan kita menceritakannya kita akan semakin susah melupakannya padahal jelas2 itu belum halal buat kita" aku yang pada saat itu lagi bego2 nya cuma angguk-angguk dan tak terlalu acuh sama perkataannya.,mikirnya sih simple aja ga nyampe pacaran kan?? cuman ngefans2 doang jadi ga apa2 lah yaa,,,(dasar bodoh !!)baiklah yang lalu biarlah berlalu semoga tidak kembali pada masa jahiliyah itu.. Selamat merenungi kisah dibawah ini,,semoga ada ibrah yang bisa diambil..insyaallah,,

Ada rahasia terdalam di dalam hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun (bisa dikatakan Cinta Dalam Hati). Fathimah, karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang juga adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ‘Abdullah Sang Terpercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah berani ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaknya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallahu ‘Anhu. “Allah mengujiku rupanya“, begitu batin ‘Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ‘Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan Rasul-Nya tidak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ‘Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berdakwah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Mekkah yang masuk islam karena sentuhan Abu Bakr, ‘Utsman, ‘Abdurahman ibn ‘Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan anak-anak kurang pergaulan seperti ‘Ali.

Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr, Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ‘Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ‘Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

‘Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ‘’Inilah perasaudaraan dan cinta’’, gumam ‘Ali.

“Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ‘Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar seorang lelaki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang mampu membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.

‘Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebatilan itu juga datang melamar Fathimah. ‘Umar memang masuk islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ‘Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ‘Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ‘Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata.“Aku datang bersama Abu Bakr dan ‘Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar..“

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ‘Umar melakukannya. ‘Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustrasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

‘Umar telah berangat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah, “Wahai Quraisy“, katanya. “Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin istrinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ‘Umar di balik bukit ini!“. ‘Umar adalah lelaki pemberani. ‘Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulullah! Tidak. ‘Umar jauh lebih layak. Dan ‘Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.

Itulah keberanian.

Atau mempersilakan.

Yang ini pengorbanan.

Maka ‘Ali bngung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ‘Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ‘Utsman sang miiarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulullah? Yang seperti Abdul ‘Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulullah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ‘Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

“Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?“, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunannya. “Mengapa engka tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..“

“Aku?“, tanya ‘Ali tak yakin.

“Ya. Engkau wahai saudaraku !“

“Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?“

“Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu. “

‘Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan! Usianya telah berkepala dua sekarang.

“Engkau pemuda sejati wahai ‘Ali!“, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, “Ahlan wa sahlan!“. Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

“Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?“

“Entahlah.. “

“Apa maksudmu?“

“Menurut kalian apakah ‘Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban?“

“Dasar tolol! Tolol!“, kata mereka, “Eh, maaf kawan. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!“

Dan ‘Ali pun menikahi fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ‘Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

‘Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali ‘Ali!“. Inilah jalan cinta para pejuang, Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menati. Seperti ‘Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah), Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda“.

‘Ali terkejut dan berkata, “Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? Dan siapakah pemuda itu?“

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah dirimu!“.

. . .

Kemudian Rasulullah SAW mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak“.

[Kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab 4]